Selama ini
budaya Barat dinilai sebagai sumber budaya negatif yang muncul di Indonesia.
Mulai dari makanan hingga fashion ala
barat, dianggap sebagai sesuatu yang menjerumuskan. Namun, mari kita lihat dari
sisi yang lain. Mungkin tak selamanya budaya barat selalu negatif. Ada banyak
hal yang sebenarnya patut kita contoh dan kita terapkan dalam kehidupan
bermasyarakat.
1.
Membudayakan membaca
Indonesia boleh terkenal dengan puisi dan karya
sastra yang membanggakan. Namun, masih banyakkah generasi muda yang menjadi
peminatnya? Generasi Indonesia saat ini cenderung menutup mata terhadap buku
yang digelari sebagai jendela dunia. Dengan adanya teknologi yang semakin
canggih, generasi muda merasa tak perlu susah-susah membaca buku untuk mencari
ilmu, cukup mengetikkan keyword di search engine dan dalam satu kedipan
mata muncullah apa yang dicari. Tapi, bukan itu poinnya. Jangan menyalahkan
teknologi ketika minat membaca masyarakat sangat rendah. Masalahnya bukan pada
teknologi tapi kepada bagaimana pemerintah merangkul masyarakatnya untuk peka
terhadap kepentingan membaca dan bagaimana masyarakat menanggapi hal tersebut.
Tahun lalu beberapa sekolah mungkin mulai menerapkan
budaya membaca, namun apa daya ketika hal tersebut hanya sebatas wacana yang
tidak terlaksana dengan benar. Sekali lagi semua ini bukan salah teknologi yang
semakin canggih hingga membuat kepala para generasi muda menolak untuk menoleh
ke tumpukan buku. Coba kita melihat dari sisi yang lain, mengapa buku dan
perpustakaan dianggap sebagai hal yang kurang menarik oleh masyarakat. Coba
kita mengajak anak-anak kecil untuk membaca buku setiap hari bukan hanya
meminta.
Tugas mereview buku, menulis sinopsis, dan lain
sebagainya bukan suatu hal yang mampu mendorong minat baca seseorang. Kembali
lagi pada ketikkan keyword pada search engine dan ratusan bahkan ribuan
web berisi review dan sinopsis akan terpampang pada layar gadget. Ajak generasi muda untuk membaca dan membagikan pelajaran
yang mereka dapat dari apa yang mereka baca. Ajak mereka untuk menerapkan
hal-hal yang mereka dapatkan itu dalam kehidupan. Generasi muda pun perlu
menyadari bahwa membaca itu penting. Bagaimana anda yang hanya mau berpegang
pada gadget bisa maju jika wawasan anda tidak seluas mereka yang tak berpegang
pada gadget. Miliki minat itu sekarang!
2.
Terbuka yang bertanggungjawab
Kita
memang tidak dianjurkan untuk menerima semua pengaruh globalisasi yang belum
tentu sesuai dengan budaya kita. Namun, peringatan itu rupanya ada yang
menganggap angin lalu dan ada pula yang menganggapnya sebagai peringatan untuk
menolak dan menutup diri terhadap perubahan. Doktrin bahwa budaya luar buruk
sudah menancap dalam pikiran bagi mereka yang tak mau ambil resiko. Sedangkan
kalangan yang satu lagi merasa tidak ada salahnya menerima semua alias
menerapkan gaya hidup 'Suka-suka Gue'.
Kedua
hal ini tentunya perlu dibenahi. Budaya barat terutama, bukan sesuatu yang
harus ditakuti hingga membuat kita mengisolasi diri. Kita diminta untuk
menerima dengan selektif, bukan sembarang menerima. Coba kita terapkan berpikir
sebelum bertindak. Kita pikirkan apakah sesuai dengan budaya timur yang dianut
Indonesia? Apakah pantas hal tersebut diimplementasikan dengan budaya kita?
Jangan
sampai karena mengisolasi diri dari perubahan kita justru menjadi bangsa yang kudet (kurang update, red), yang tidak berkembang, dan tidak bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain
yang sudah dua langkah lebih maju. Terbuka pada perubahan boleh asal yang kita
adaptasi bisa dipertanggungjawabkan.
3.
Datang on time atau sabarlah dalam antrian

Pernahkah
anda melihat antrian yang rapi di Indonesia? Pasti hampir semua menjawab jarang
atau bahkan tidak pernah. Coba kita lihat kegiatan pembagian sembako atau
kegiatan semacam lainnya. Semua orang yang hadir saling sikut demi mendapat apa
yang mereka butuhkan padahal sudah jelas diberitahukan semua akan kebagian.
Sejujurnya, buat apa saling sikut jika pada akhirnya semua kebagian? Mungkin
hal ini bukan sepenuhnya salah hadirin namun bisa jadi masalah pada
penyelenggara. Di instansi tertentu bahkan sering didapati loket yang harusnya sepuluh
hanya buka enam pada jam kerja hingga menimbulkan antrian sangat panjang. Tidak
ada orang yang ingin menunggu, itu sudah jelas. Jika anda tidak ingin terlibat
dalam antrian panjang, datanglah lebih awal. Jika anda malas datang awal, tidak
perlu anda marah saat terjebak antrian. Meski demikian, penyelenggara kegiatan
maupun pengurus instansi tertentu perlu pula memperbaiki diri. Jika masyarakat
bisa on time, seharusnya pemerintah
yang notabene panutan masyarakat harus lebih tertib lagi kan.
4.
Memahami integritas
Masyarakat
Indonesia tampaknya masih belum memahami dengan benar apa itu integritas.
Mudahnya, coba kita lihat mana yang lebih banyak, penjahat kerah putih atau
penjahat kelas teri. Masyarakat Indonesia cenderung memikirkan apa yang
menguntungkan bagi dirinya sendiri. Selama dirinya diuntungkan maka ia tak akan
segan untuk menghalalkan segala cara demi memuluskan rencananya.
Bahkan
ketika apa yang mereka lakukan diketahui publik, mereka masih bisa menebar
senyum tak bersalah di depan kamera dan memanfaatkan fasilitas khusus di
penjara dengan maksimal. Hukuman penjara seolah bukan momok menakutkan
melainkan hanya tempat beristirahat sejenak sebelum kembali beraksi.
Integritas
kita perlu dipertanyakan dalam masalah seperti ini. Mari melupakan para pejabat
sejenak dan merefleksikan diri kita. Di tempat kita berkarya dan bekerja
sudahkah kita menjalaninya dengan jujur? Sudahkah kita pay respect terhadap orang-orang yang jabatannya lebih tinggi dari
kita? Sudahkah kita menjalankan tugas kita dengan benar tanpa mengurangi
disana-sini? Sudahkah kita mengerjakan tugas sepenuh hati bukan demi poin
minimal alias 'Yang Penting Lulus, Yang Penting Tuntas'?
Saat
melihat berita tentang kasus penipuan dan korupsi kita kadang mencela para terdakwanya,
namun coba berkaca sejenak. Sudahkah kita melakukan hal yang lebih benar dari
mereka sehingga kita berhak mengata-ngatai mereka? Tak peduli alasan apapun
yang kita gunakan, yang jelas miliki dan pahamilah integritas. Hidup tak bisa
dijalankan seenak kehendak kita. Lakukan apa yang benar-benar benar. Do what's really right!
Don’t be afraid to try new things. They aren’t all
going to work, but when you find the one that does, you’re going to be so proud
of yourself for trying.
Penulis: Felicia Luvena
Editor: Regina Bella Rosari