Istilah budaya barat merujuk pada suatu
kebudayaan yang berasal dari negeri barat, Eropa serta Amerika. Budaya barat
itu sendiri sebenarnya sudah akrab dengan Indonesia sejak lama, mengingat Indonesia
pernah menjalin hubungan perdangan dengan bangsa barat yang berakhir pada
penjajahan selam 3,5 abad. Setelah berakhir penjajahan, Indonesia tetap terus
berinteraksi dengan bangsa barat dalam berbagai hal hingga saat ini. Seharusnya,
tidak ada kontrovensi lagi mengenai budaya barat. Namun, pada kenyataannya,
berbagai argumen mengenai budaya barat terus bermunculan hingga saat ini.
Berbagai
pernyataan yang bernada menjatuhkan atau menjelekkan budaya barat sudah sering
kali kita dengarkan. Memang perkataan atau kalimatnya tidak sama, namun
kebanyakan berujung pada hal yang sama, yaitu mengkambinghitamkan budaya barat
yang masuk dalam wilayah Indonesia yang memegang adat ketimuran. Yang menjadi
pertanyaan, siapa yang salah dalam kasus ini? Apakah budaya barat yang salah?
Secara
teoritis, budaya barat tak dapat disalahkan seutuhnya. Budaya dari manapun
dapat masuk melintasi batas-batas yang ada melalui proses difusi. Apalagi saat
ini didukung dengan semakin pesatnya teknologi yang berkembang. Penyebaran
budaya akan semakin cepat melintasi perbedaan wilayah, perbedaan waktu, dan
perbedaan masyarakat. Tidak menutup kemungkinan masyarakat wilayah A namun
menganut budaya masyarakat wilayah B. Hal tersebut seharusnya tak bisa
disalahkan, karena sudah menjadi pilihan personal tiap individu. Meski begitu,
akan lebih baik jika masyarakat A tetap memegang teguh budaya masyarakat A
sebagai salah satu identitas diri yang melekat sejak sebelum lahir.
Mengenai
peniruan atau penganutan budaya asing bukan suatu topik yang asing bagi
masyarakat Indonesia. Bahkan mungkin sudah menjadi bahasan sehari-hari secara
tidak langsung. Tak dapat dipungkiri, budaya barat memang merajalela dalam
hidup masyarakat Indonesia pada umumnya. Gaya busana (fashion), musik, perilaku dan sikap, bahasa serta berbagai aspek
lainnya ‘dijiplak’ oleh masyarakat Indonesia.
Bukan
salah budaya barat seutuhnya jika terjadi demikian. Budaya barat tak pernah
memaksakan agar masyarakat lain menggunakan atau menerapkan budayanya dalam
hidup keseharian masyarakat. Yang menjadi poin utamanya di sini adalah
masyarakat penerima. Jika masyarakat penerima menerimanya dengan selektif dan
tidak fanatik, maka budaya asing (budaya barat) tidak akan ‘mengambil alih
posisi’ budaya asli yang melekat pada dirinya. Perlu filter dari masyarakat itu sendiri, apakah budaya asing yang masuk
menggeser nilai-nilai positif budaya asli yang melekat pada dirinya.
Meniru
budaya asing juga tidak selalu buruk. Maksud dari meniru ini adalah meniru
hal-hal positif yang belum ada pada budaya kita. Hal-hal positif tersebut yang
memang terbukti nyata berpengaruh baik dan mencakup masyarakat secara luas
bukan masyarakat tertentu. Misalnya saja, budaya untuk disiplin waktu. Budaya disiplin
waktu sangat penting untuk diterapkan dan budaya waktu ini tidak memandang
konteks pelaksanaannya (dalam semua konteks, budaya tepat waktu sangat
dibutuhkan).
Selanjutnya,
jangan selalu menganggap budaya asing itu adalah suatu hal yang buruk, atau
hanya memandang budaya asing dari segi negatif. Selalu lihat segala hal dari
sisi positifnya terlebih dahulu, yang mungkin dapat member manfaat bagi kita.
Terakhir,
menjadi pilihan bagi setiap kita, apakah kita mau bersikap aktif, menolak, atau
apatis terhadap budaya yang ada. Jika ada orang yang meniru budaya asing, well, don’t judge the book by its cover!
Penulis: Regina Bella Rosari